17
Feb
09

LET’S SEX PARTY DAY?

sex-matters-logo-rescanned1

SEKS! Saya sudah lupa kapan, dimana, dan siapakah yang pertama kali memperkenalkan kata ini pada saya. Yang pasti, dari kecil saya sering tidak nyaman untuk memakai dan mendengar kata ‘seks’. Pun pada saat baru beranjak remaja ‘seks’ hanya menjadi istilah yang sering saya jadikan olok-olok diantara teman sebaya saat kami bergurau tentang hubungan intim orang dewasa. Kata ini, singkatnya, kami pahami sebagai kata yang kotor, ‘nakal’, tabu, tidak pantas dan bahkan awas! jika sembarang ucap.

Namun suatu hari pada saat mengisi sebuah blanko berbahasa Inggris yang menanyakan name, kemudian sex, saya agak sedikit mengernyikan dahi, sebelum akhirnya sadar bahwa sex yang dimaksud disana adalah jenis kelamin. Inilah yang mendorong saya untuk mencari tahu, benda apa sih sebenarnya seks yang diserap dari bahasa Inggris sex? Saya lalu mengulik sebuah kamus online. Compact Oxford Dictionary merekomendasikan sex sebagai sebuah kata benda yang berarti, 1 either of the two main categories (male and female) into which humans and most other living things are divided on the basis of their reproductive functions. 2 the fact of belonging to one of these categories. 3 the group of all members of either sex. 4 sexual activity, specifically sexual intercourse.

Dalam bahasa Indonesia, pengertian pertama, seks adalah salah satu dari dua kategori utama (laki-laki dan perempuan) dimana manusia dan sebagian besar mahluk hidup dibagi berdasarkan fungsi reproduksi mereka. Pengertian kedua menyatakan seks sebagai sebuah kenyataan atas kepemilikan terhadap satu dari kategori – pada pengertian pertama. Pada definisi ketiga, seks berarti kelompok dari semua anggota salah satu seks – seperti pada definisi pertama. Baru pada pengetian terakhir seks diartikan sebagai aktivitas seksual, khususnya hubungan seksual.

Dari empat definisi ini, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa pengertian seks pada definisi satu, dua, dan tiga lebih mengacu pada seks sebagai sebuah identitas diri dan kelompok yang didasarkan atas fungsi reproduksi. Barulah pada pengertian terakhir seks diartikan secara khusus sebagai sebuah aktivitas hubungan kelamin. Kenyataan bahwa seks dalam kehidupan kita selalu diartikan mengacu pada definisi terakhir membuktikan betapa selama ini arti kata seks telah dipahami secara pincang.

Jadilah, banyak orang, termasuk kita, remaja, tidak nyaman berbicara soal seks. Pasalnya, seks berimplikasi negatif dan sarat spekulasi. Bicara soal seks, tanpa lebih dulu meninjau substansi pembicaraan, pasti dicap sama dengan bicara jorok. Pengertian yang salah kaprah ini menjadi masalah klasik dalam setiap pengajaran kesehatan reproduksi, HIV/AIDS atau apapun yang menyangkut seksualitas. Bahkan tidak jarang guru sekolah mengidentifikasi seks secara salah. Seks yang selalu distigmakan sebagai sebuah kata ‘kotor’ dan ‘tidak pantas’ telah menjadi duri dalam pengajaran masalah yang prinsipil manusia, yaitu seks sebagai sebuah identitas. Alhasil, pengajaran yang judulnya bagian dari pendidikan seks dalam mata pelajaran Biologi ataupun Konseling diberikan secara setengah hati, dan penuh curiga.

Keterbukaan menjadi langka. Kita, remaja, bungkam soal seks. Kita merasa tidak dipercayai dan tidak nyaman. Padahal, saat fase remaja ini, organ dan hormon reproduksi kita sedang berkembang pesat. Seiring dengan itu, keingintahuan dan problematikan seks kita semakin menuntut. Perubahan baik fisik, mental bahkan sosial yang dihadapi, wajar saja membuat kita merasa kurang nyaman. Untuk itu, kita mencari sumber-sumber yang dianggap menjanjikan informasi, seperti teman dan media dimana informasi seputar seks diberikan. Tapi… Ooow, sebagian kita memilih resiko dengan melahap informasi yang nota bene tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Cara tersebut jelas sama sekali tidak aman. Mengapa kita, remaja, seakan memposisikan diri seolah mencuri-curi kesempatan untuk mengetahui sebanyak mungkin informasi seputas seks? Fenomena yang kemudian terjadi adalah remaja menjadi konsumen sekaligus korban dari informasi seks yang salah. Menonton film dan mengulik situs porno dianggap sebagai pembekalan menuju kedewasaan. Tidak jarang remaja yang belum pernah menonton bokep dianggap tidak gaul atau masih kanak-kanak, kenyataannya, anak-anakpun sudah mengkonsumsi tayangan tidak pantas ini.

Pemberitaan di situs resmi BKKBN yang diterbitkan 14 Februari 2007 lalu adalah mengutip survei yang dilakukan Yayasan Kita dan Buah Hati tahun 2005 di Jabodetabek yang memperoleh hasil lebih dari 80 persen anak-anak usia 9-12 tahun telah mengakses materi pornografi dari sejumlah media termasuk internet. Terkait dengan ini, masih dari sumber berita yang sama, survei tahun 2002 di daerah Jawa Barat yang dilakukan Islamic Centre Cirebon menunjukkan 40 persen remaja berusia 15-24 tahun telah mempraktekan seks pranikah.

Fantastis! Dengan fakta diatas, siapa yang bisa menjamin bahwa remaja, kita atau teman-teman disekitar kita lebih baik dan cukup aman dari bahaya dan praktek yang sama?

Sebagai seorang remaja, penulis melihat bahwa masalahnya adalah baik orang tua ataupun sekolah dan masyarakat masih belum mau membuka keran informasi seputar seks. Mereka, termasuk juga kita remaja masih mempersepsikan seks sebagai sesuatu yang tabu. Kontrasnya, kita sebagai remaja amat ingin tahu, sehingga muncul sebuah dualisme yang berpotensi bahaya.

Pengertian seks yang selama ini diberi stigma sebatas hubungan di tempat tidur haruslah segera diluruskan. Seks harus dipandang sebagai sebuah identitas. Seks seorang remaja tidak cuma masalah hubungan intim. Lebih dari itu, seks harus kita pahami sebagai sesuatu yang multi aspek. Perubahan fisik akan terkait dengan perubahan sikap, mental, dan sosial yang tidak lagi sama dengan masa anak-anak. Pelik memang, untuk itu kita harus mau belajar dan mencari tahu tentang informasi seks yang benar, saatnya kita melihat pendidikan seks sebagai sebuah bekal penemuan identitas dan pencarian jati diri. Kita harus tahu apa yang terjadi atas tubuh kita, dan semua perubahan yang hadir bersamanya. Kita berhak untuk tahu dan untuk itu kita harus berbuat. Setuju?

Kondisi yang paling nyaman untuk mencapai pemahaman di atas adalah dengan menghadirkan sebuah pendidikan seks dalam media yang dekat dengan dunia kita, dunia remaja. Remaja adalah sosok yang dinamis. Remaja suka terhadap perubahan, sesuatu yang baru. Tidak heran jika kemudian kita senang musik, fashion, sinema dan ikon-ikon budaya popular lainnya. Tidak sebatas itu, kita sebagai remaja juga memiliki dorongan yang kuat untuk menuangkan ide-ide baru. Kreativitas kita sebagai remaja adalah kontribusi yang harus selalu diwadahi dan tidak diabaikan, termasuk dalam pendidikan seks.

Selain pertimbangan tersebut, tempat pendidikan yang tepat juga harus diperhitungkan. Salah satu tempat yang strategis adalah sekolah. Dalam suasana yang edukatif dan perasaan saling percaya antara seluruh komponen di sekolah adalah motivasi kita untuk melihat seks sebagai wilayah ilmu yang dekat dengan diri kita. Sekolah, adalah tempat dimana kita bergaul dengan remaja lainnya hingga merasa memiliki kesempatan untuk membangun eksistensi.

Pentingnya meluruskan makna seks pada remaja, pertimbangan akan perkembangan remaja sebagai kelompok umur yang dinamis dan kreatif, serta sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang strategis telah menggagaskan sebuah ide yang ingin penulis tawarkan, yaitu SEX PARTY DAY, disingkat dengan SPD. SPD adalah satu hari atau beberapa jam yang diambil diantara lima atau enam hari sekolah dimana pada hari tersebut para siswa yang mewakili kelas dan kelompok ekskulnya menampilkan kreativitas mereka, seperti band, olah raga, solo song atau group nasyid, fashion show, demo ketangkasan oleh pramuka, PMR dan kelompok bela diri, pantomin, puisi atau cerita oleh klub menulis dan lain-lain yang bisa disesuaikan dengan ekskul dan kreativitas yang ada di suatu sekolah.

Tidak sekedar itu saja, pertunjukan ini juga akan diselingi beberapa mata acara seperti SEX TALK yang membahas pertanyaan-pertanyaan siswa yang masuk ke SEX BOX sekolah bersama dengan nara sumber yang berkompeten seperti dokter, psikolog, ataupun guru BK. Selain itu juga ada SEX DEBATE yang merupakan debat antar kelas seputar masalah seks remaja seperti topik-topik terkait dengan kesehatan reproduksi dan HIV dan AIDS yang dapat diperdebatkan. Bisa saja memperdebatkan haruskah remaja berpacaran, atau cewek tomboy atau cowok feminim itu masalah, atau hamil diluar nikah baiknya digugurkan saja? Selain itu ada SEX FASHION dimana selain memamerkan busana dan gaya, remaja juga diharuskan membawa papan yang berisikan informasi yang benar seputar kesehatan reproduksi dan kaitannya dengan HIV dan AIDS. SEX MOVIE juga bisa diadakan dengan memutar film singkat kreasi siswa yang salah satu temanya adalah HIV dan AIDS.

Sekolah juga bisa mengadakan pemilihan SEX IDOL yang mekanismenya diserahkan pada inisiatif pelajar di sekolah yang bersangkutan, yang akhirnya akan memilih seorang idola sekolah yang bukan saja cerdas dan kreatif tapi juga punya pandangan dan terhadap persoalan seks remaja seusianya. Setiap akhir semester, kelas yang paling aktif atau ekskul yang paling diminati akan diganjar dengan SEX AWARD yang diberikan secara bergilir. Dengan demikian, siswa diharapkan termotivasi dan menikmati SPD sebagai sebuah sarana hiburan edukatif yang tidak terpisah dengan semangat sportivitas.

Sedikit mengulas judul acara, kenapa harus SEX PARTY DAY? Sex memiliki arti sebagai sebuah identitas, jati diri remaja. Dalam hal ini seks tidak cuma dilihat secara sempit apalagi diartikan secara negatif. Seks dalam lingkup pendidikan seks meliputi kesehatan reproduksi dan kaitannya dengan HIV dan AIDS serta aspek mental dan sosial yang tidak dapat dipisahkan. Memakai kata SEX pada SPD diharapkan dapat meruntuhkan tabu atau stigma dari arti seks secara sempit yang berkonotasi negatif. Selain itu, dengan nama tersebut akan terbangun sebuah perasaan nyaman dan antusiasme dalam diri remaja untuk mempelajari seks secara terbuka lewat media yang menyenangkan.

Party pada SPD mengandung arti sebagai sebuah pesta, perayaan. Selain suasana acara yang memang dibuat meriah, perayaan di sini juga memiliki arti implisit, yaitu perayaan sebuah pencerahan, sebuah gelombang positif yang digagas di sekolah untuk menanamkan bahwa informasi dan wacana seputar seks sebagai sebuah pembelajaran untuk remaja. Remaja harusnya memanfaat kesempatan ini untuk memperoleh informasi seks yang benar menyangkut pengetahuan kesehatan reproduksi, HIV dan AIDS.

Dalam sebuah suasana pesta, kemeriahan, dan dinamisnya kreativitas, kita tentu tidak harus malu-malu lagi bertanya, menyerap informasi, bahkan bertukar pendapat tentang persoalan seks. Dalam pesta tersebut kita larut, menyamakan cara pandang kita untuk meruntuhkan stigma yang selama ini menjadikan persoalan pendidikan seks. Pengetahuan kita akan HIV dan AIDS akan menyiapkan kita untuk bersikap serta memilih gaya hidup yang tidak berisiko serta melihat HIV dan AIDS sebagai persoalan kesehatan yang seharusnya juga bebas dari stigma. 

SPD dapat dilakukan disesuaikan di berbagai jenjang pendidikan tergantung analisa kebutuhan. Jenjang pendidikan SLTA adalah yang paling strategis untuk ini. Di sebuah sekolah, SPD dapat dikoordinir oleh OSIS dibantu para guru. Diharapkan ada satu departemen di OSIS yang mengatur acara ini. Persiapan penyelenggaraan bisa digilir pada masing-masing kelas seperti penyelenggaraan Upacara Senin pagi. Boleh jadi di satu sekolah tidak semua mata acara dapat dilakukan sekaligus. Tidak soal! Yang penting dipahami adalah konsep acara. SPD merupakan perpaduan kreativitas remaja dan pendidikan seks yang meliputi pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja, HIV dan AIDS dalam sebuah media yang fun sehingga selaras dengan jiwa kita dan dapat kita nikmati. 

SPD merupakan ajang bagi kita para remaja untuk mengekspresikan kreativitas dan menuntut hak kita untuk mendapat informasi seks (Kesehatan Reproduksi, HIV dan AIDS) yang benar, tuntas, dan bebas stigma. Kombinasi antara kreativitas remaja yang mengemas pendidikan seks secara menarik tentu dapat menghasilkan remaja yang percaya diri. Kepercayaan diri ini kemudian mendorong timbulnya perubahan perilaku dan keberanian dalam mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan yang kita miliki. Remaja, kemudian dapat menilai informasi yang bertebaran disekitarnya dengan lebih objektif dan logis serta menyikapi beragam fenomena disekitarnya dengan benar. Secara tidak langsung, maka remaja akan tampil menjadi agen-agen anti praktik seks berisiko sehingga terhindar dari berbagai persoalan seks termasuk HIV dan AIDS.

Selain itu, ajang kreativitas ini akan mampu membangun solidaritas antar sesama rekan sebaya. Solidaritas yang terbina satu sama lain di kelas, dalam kelompok atau klub di sekolah diharapkan mampu menjalankan fungsi kontrol sehingga efektif untuk menangkal gejala dan sikap negatif yang berisiko pada diri anggota kelompok. Remaja merasa bahwa meraka punya kewajiban moril untuk tidak membiarkan rekan sebayanya terjebak dalam persoalan seks yang berisiko, untuk itu mereka harus berbuat, menyadarkan si teman, dan mengutarakan alasannya segara logis hingga dapat diterima si teman. Dengan demikian remaja telah berperan dalam upaya pencegahan dan penyebaran HIV dan AIDS untuk rekan sebayanya.

Saat seks dibicarakan secara terbuka, hal yang tidak dapat diabaikan adalah terbangunnya atmosfir yang demokratis dan tidak bias jender antara siswa cowok dan cewek. Bukankah biasanya celetukan dan obrolan soal seks lebih didominasi oleh siswa cowok? Dengan SPD, kedua kelompok remaja ini sama-sama mengerti bahwa mereka punya hak sama untuk membahas seks sebagai sebuah pengetahuan yang mutlak agar dapat hidup menjadi remaja dan manusia seutuhnya. 

Lewat SPD, remaja sebagai siswa bersama dengan seluruh stake holder yang ada di sekolah mampu menyamakan cara pandang terhadap seks dalam program pendidikan seks yang berikan secara terbuka, objektif dan bebas stigma. Kesamaan cara pandang ini tentunya akan membuat seluruh komponen lebih solid dan harmonis, karena terikat oleh satu keyakinan dan perasaan saling percaya. Dengan begitu, visi dan misi sekolah pun pasti akan lebih mudah tercapai.

(Juara I Lomba Karya Tulis HIV BKKBN 2007 – http://www.menkokesra.go.id/content/view/6452/39/)


0 Responses to “LET’S SEX PARTY DAY?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: